Apakah Pria Dan Wanita Bisa Bersahabat Sajah?

Apakah Pria dan Wanita bisa cuma bersahabat sajah? “Pria yang 1000% best friend pun ga akan menolak kalo dikasih ‘lebih’..” Karena persahabatan pria ke wanita itu seperti sebuah game di mobile gadgets: walau dimainkan santai tanpa ada tujuan, semua pria pasti suka jika bisa masuk bonus stage atau meraih level kejutan.

Berikut 3 hal yang akan ada ketahui dan Bisa membuat anda lebih dewasa waspada dalam persahabatan, bahkan tidak tertutup kemungkinan melihat jodoh yang selama ini sudah ada di depan mata Anda.

Untuk Para Pengunjung, tolong baca bagian pertama saja, tidak usah memaksakan diri karena nanti mumet pusing anda ga bisa konsentrasi di sekolah dan bagi yg g skolah silakan baca perlahan sampai habis dan direnungkan karena ini benar-benar akan mengubah cara Anda memandang dunia.

Diketahui: Pria dan wanita adalah makhluk sosial.
Ditanyakan: Bisakah keduanya cuma bersahabat saja tanpa perasaan tertarik dsb?

JAWABAN PENDEK: Tidak Bisa!

belajar cinta dari kisah Hollywood mungkun satu hal yg negatif , tapi ucapan Harry di film When Harry Met Sally kali ini sangat tepat, “Men and women can’t be friends because the sex part always gets in the way.”

Karena pria dangkal. Walau awalnya murni bersahabat, pria (biasanya) tidak akan menolak jika melihat ada kesempatan untuk meraih/diberikan bonus lebih.. apalagi jika minim atau tidak ada syarat.

Karena pria (biasanya) bersahabat hanya dengan wanita yang menarik hati. Untuk apa bersahabat dengan wanita yang tidak menarik, karena pria sudah punya segudang sahabat yang tidak menarik hatinya: teman-teman pria!

Karena pria (biasanya) bersahabat dengan wanita atas dasar ketertarikan, sedangkan wanita (biasanya) bersahabat dengan pria atas dasar kenyamanan. Wajarlah sang pria jadi duluan memelihara perasaan dan harapan lebih, baik diakui maupun dipendam.

Karena ada faktor sexual chemistry yang sewaktu-waktu bisa teraktivasi. Sedikit saja cipratan biokimia tubuh bisa memicu berbagai ekspektasi romansa, dan pria (biasanya) pihak yang lebih sensitif akan isu seksualitas ini.

Blogger serta siapa saja yang merasa lemah dalam berpikir, sudah stop di sini saja. Artikel ini sudah habis, Anda sudah jadi jauh lebih pintar, silakan lanjut baca artikel kacangan hura-hura seperti 5 Buah Mirip Tubuh Manusia, 6 Binatang Yang Mungkin Dari Luar Angkasa, 7 Bukti Keberadaan Surga Neraka, dsb.

JAWABAN PANJANG: Tidak Bisa, Kecuali …

Lho, kok lanjut baca? Yakin mampu? Oke lah..

Seperti Anda bisa lihat di bagian sebelumnya, jelas faktor kunci yang membuat pria-wanita tidak bisa terus murni bersahabat adalah sang pria. Sebagai wanita, Anda merasa nyaman saja bersahabat dengan pria selama bertahun-tahun tanpa memiliki minat romansa sedikit pun. Kalaupun romansa sempat sedikit terlintas atau digoda oleh teman wanita lainnya, Anda bisa dengan mudah membunuh getar itu dengan alasan, “Engga ah, itu bisa merusak persahabatan!” Lagipula, untuk apa memikirkan cinta yang beresiko merusak persahabatan, jika sesungguhnya ada banyak tawaran romansa lainnya dari pria-pria baru di luar sana?

Keamanan dan kenyamanan itulah yang membuat wanita secara psikologis bisa mematikan seleranya pada sahabat-sahabat pria. Dalam kajian psikologi evolusi, wanita adalah makhluk sosial yang senantiasa mengelilingi dirinya dengan banyak sahabat pria agar lebih terlindung dari bahaya. Itu sebabnya wanita bisa santai menjalani hubungan platonik (keintiman emosional tanpa keintiman romantik/seksual). Resiko kehilangan sahabat pria baik itu lebih merugikan daripada resiko salah mencintai pria yang tidak dikenal; yang pertama itu dia merasa kehilangan, bodoh dan rugi, yang kedua itu dia tetap aman karena punya sahabat-sahabat pria yang senantiasa membela mengingatkan dirinya tidak bodoh atau rugi.

Sedangkan pria, ‘makhluk satu dimensi yang dangkal, dingin, kasar, dan senantiasa dibodohi testosteron mereka’, memiliki sistem psikologi yang agak berbeda. Sebagai wanita, Anda bisa curhat masalah ke sahabat wanita lainnya, mereka akan menyimak serta berkomentar kesana kemari, merasa akrab senasib sepenanggungan, lalu pulang dan saling menggosip satu sama lainnya. Tapi jika Anda curhat pada sahabat pria, itu membangkitkan gairah kejantanannya untuk melindungi dan memberikan solusi. Keakraban, kehangatan, kelembutan, dan permintaan tolong Anda membuatnya merasa spesial, dicari, diinginkan, dihormati, dibutuhkan. Tambahkan sedikit kontak fisik seperti tepukan atau cubitan kecil saja, insting sang pria akan menyala seperti pohon natal. Wajar dia ‘tertipu’ hasratnya sendiri untuk menginginkan Anda lebih jauh dan lebih banyak.. apalagi jika Anda memang terlihat cantik/menarik.

Ladies, persahabatan pria dan wanita adalah comfort zone yang sulit bertahan platonik untuk waktu lama, walau bisa saja awalnya murni demikian. Wanita ingin santai selamanya dalam comfort zone, pria justru gatal menggunakan comfort zone sebagai papan pegas untuk melompat atau sekedar mencicipi zona-zona lainnya. Pola seksualitas pria-wanita mempengaruhi pola persahabatan: wanita melihat kenyamanan, pria melihat kesempatan.

Itulah yang akan normalnya terjadi, kecuali…

Sang wanita jelek. Jelek yang saya maksud bukan “Ih ada jerawat baru, aku jadi jelek!” yang sering dikeluhkan wanita. Bukan juga dalam artian, “Aku pemalas, emosian, cepet nyerah, banyak deh sifat jelek aku!” Jelek yang saya maksud adalah gagal menggairahkan secara visual maupun biologis. Ini pun sebenarnya standar yang sulit dipenuhi, karena orang jelek tetap ada pasar peminatnya.

Sang pria memiliki preferensi seks yang berbeda. Intinya sama seperti poin sebelumnya: dia tidak bergairah melihat Anda. Titik.

Sepanjang Anda masih punya secuil poin yang sahabat pria Anda anggap menggairahkan, dia tidak akan selamanya memandang Anda hanya sebagai sahabat wanita. Tinggal masalah waktu, dan keberanian untuk mengakui. Jika tidak ada pengakuan (baca: para pria itu menahan mati-matian), persahabatan platonik tersebut akan terus berjalan normal senormal-normalnya, dan Anda memaki, “Hahahaha, Lex salah, kita murni temanan kok.. percuma teori-teori ngejelimet loe, dasar sok tau!”

JAWABAN PENELITIAN: Tidak Bisa Karena

University of Wisconsin-Eau Claire mengumpulkan 88 pasang sahabat pria-wanita, menaruh mereka di ruangan yang terpisah, dan mewawancarai masing-masing dengan puluhan pertanyaan tajam brutal tentang ketertarikan pada sahabatnya. Hasil penelitian berjudul itu dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships bulan April 2012, menegaskan bahwa pria-wanita memiliki ekspektasi dan sistem perilaku yang berbeda dalam persahabatan persis yang saya tuliskan di atas.

» Anda bisa baca publikasinya yang berjudul Benefit or Burden? Attraction in Cross-Sex Friendship, tapi karena saya tahu Anda malas, berikut adalah kutipan poin-poinnya:

» Pria punya ketertarikan/minat yang jauh lebih besar pada sahabat wanitanya, dibanding wanita pada sahabat prianya.

» Pria lebih sering merasa/berpikir sahabat wanitanya tertarik padanya, dibanding wanita merasa tentang sahabat prianya.

» Merasa sahabat wanitanya tertarik, pria sering menyambung-nyambung/mengartikan perilaku sahabat wanitanya sebagai tanda tertarik.

» Pria sering mengasumsikan bahwa sahabat wanitanya juga memiliki perasaan/ketertarikan yang sama seperti dirinya.

» Wanita jarang bisa tertarik pada seorang sahabat dekat, dan berasumsi pria juga punya sikap yang sama sepertinya.

» Alhasil timbullah pola sosial ini: pria overestimated ketertarikan yang dirasakan oleh sahabat wanitanya dan wanita underestimated ketertarikan yang dirasakan oleh sahabat prianya.

» Persahabatan terus berlanjut dengan salah satu (atau kadang keduanya) menahan atau menyembunyikan ketertarikannya.

Dalam studi lanjutannya, 430 pria-wanita dewasa diminta untuk mendaftarkan sisi positif dan negatif bersahabat dengan lawan jenis. Secara umum, pria dan wanita sepakat bahwa memasukkan ‘hubungan ini bisa memicu perasaan cinta’ ke dalam sisi negatif. Tapi jika dilihat detil, ada perbedaan antara jawaban mereka: kaum pria cenderung anggap potensi romansa sebagai sisi negatif yang menguntungkan, sementara kaum wanita anggap itu sebagai sisi negatif yang merugikan.

Kemudian semakin pria bertambah usia, semakin mereka menganggap potensi romansa dengan sahabat wanitanya sebagai kenegatifan yang menguntungkan. Pria dewasa yang sudah memiliki pasangan mengalami sedikit penurunan ketertarikan pada sahabat wanita, tapi tetap lebih tinggi daripada wanita dewasa yang sudah memiliki pasangan.

Anda boleh membantah sekuat tenaga, tapi fakta penelitian sampai detik ini menyatakan pria dan wanita tidak bisa terus murni bersahabat tanpa (salah satu jadi) suka-sukaan. Kalaupun Anda punya bukti-bukti pengalaman sendiri, itu adalah secuil pengecualian atau mungkin juga sang sahabat pria tidak berani mengakui pernah punya getar-getar cinta. Api itu pasti pernah ada, tapi soal dipelihara atau disangkali mati-matian.. itu lain cerita.

So sekali lagi saya tanyakan, bisakah pria dan wanita sekedar berteman saja tanpa motivasi romansa ataupun seksual? Jawabannya sangat tergantung pada siapa yang menjawabnya. Mindtalk users akan menjawab tegas BISA tak peduli apapun yang tertulis di artikel ini. Wanita juga akan cenderung menjawab tegas: BISA. Pria, ilmuan, dan siapapun yang bukan wanita akan menjawab tegas: BISA.. awalnya.

Nah ledies smoga bisa di cernah dan muda di pahami, untuk konsultan atau ingin tau lebih banyak tentang Romansa kunjungi ahlinya HITMAN SYSTEM

SUMBER



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s